Program Makan Bergizi Gratis atau MBG tetap berjalan seusai 24 siswa dan seorang guru dirawat karena dugaan keracunan di SD Negeri 12 Benua Kayong, Ketapang. Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat mengevaluasi total dan mengawasi mutu makanan yang didistribusikan ke sekolah.
Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan mengatakan, dugaan keracunan di SD Negeri 12 Benua Kayong, Kabupaten Ketapang, sedang dievaluasi dari hulu ke hilir. Pihaknya menggelar pertemuan dan membahasnya dengan Koordinator Regional MBG Kalbar.
”Kami pun menyiapkan tenaga ahli gizi dan akan melengkapi hal-hal yang kurang,” ujar Norsan dalam keterangan tertulis, Selasa (30/9/2025).
Kepala Regional MBG Kalbar Agus Kurniawi meminta maaf atas insiden dugaan keracunan pada 23 September 2025 di Kabupaten Ketapang tersebut. Ia menduga ada kelalaian dalam penyediaan menu MBG yang disajikan kepada siswa sehingga memicu sakit perut dan mual.
Menu yang disajikan saat itu adalah nasi putih, tahu goreng, sayur kol dan wortel, potongan buah melon, dan filet hiu saus tomat. Dugaan awal, filet hiu menjadi penyebab keluhan sakit siswa.
Ia mensinyalir tidak semua siswa terbiasa mengonsumsi menu tersebut kendati beberapa kelompok masyarakat di sana mengonsumsi daging beberapa jenis hiu yang tidak dilindungi.
”Namun, sampel makanan masih diuji laboratorium. Kita tunggu apakah ada unsur lain,” kata Agus.
Ia menyatakan, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dapur Mitra Mandiri 2 yang menyajikan makanan telah dihentikan sementara operasionalnya. Evaluasi menyeluruh pun dilakukan kepada semua SPPG yang menyediakan MBG di Kalbar.
Di seluruh Kalbar, tercatat ada 211 SPPG tersebar pada 14 kabupaten/kota. Sebanyak 22 dapur SPPG di antaranya berada di Kabupaten Ketapang. Setiap dapur melayani 2.000-3.500 penerima manfaat MBG.
Setelah insiden di Ketapang, setiap SPPG dikurangi bebannya, maksimal melayani 2.000 porsi sehari. ”Kami berjanji akan menerapkan zero accident,” kata Agus.